Latar Belakang
Sejumlah strategi
intruksional untuk mencapai tujuan pengajaran yag berbeda-beda sudah
dikembangkan oleh para pakar yang berbeda pula. Joyce dan Weil mendeskripsikan
model pembelajaran sebagai rencana atau pola yang dpat digunakan untuk
membentuk kurikulum, mendesain materi-materi intruksional, dan memandu proses
pengajaran di ruang kelas. Bagi guru model-model ini penting dalam merancang
kurikulum pada siswa-siswanya dan dapat membantu siswa berpikir kreatif dan
produktif. Aspek dalam setiap model yang digunakan dalam merancang kurikulum
sebaiknya pemilihan bergantung pada lingkungan sekolah, sumber yang tersedia,
dan outcomes yang diinginkan. Ketika
berencana memasukkan salah satu atau beberapa model ke dalam suau program
tertentu, guru seharusnya menggunakan kinerja-kerja kurikulum yang didalamnya
berisi prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran untuk memandu belajar siswa,
penilaian atau assessment untuk
melihat hasil akademik yang telah diperoleh siswa, serta untuk menghindari
kejenuhan yang terkadang terjadi pada siswa terhadap metode pembelajaran yang
masih konvensional.
Penerapan metode
mengajar yang bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam proses
kegiatan belajar mengajar. Penerapan metode mengajar yang bervariasi ini untuk
meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar sekaligus sebagai salah satu
indikasi dalam peningkatan kualitas pendidikan. Penerapan pembelajaran
kolaboratif menurut hasil penelitian Johnson dan Smith (Barkley, 2005: 3)
berkesimpulan bahwa kelompok belajar merupakan metode yang efektif untuk
membangun pengetahuan bagi siswa. Pembelajaran kolaboratif menitikberatkan pada
proses belajar dalam kelompok kecil yang masing-masing anggota kelompok saling
membantu dan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menemukan ide atau gagasan
dalam pemecahan masalah. Siswa mempunyai akan belajar dengan baik jika diberi
kesempatan untuk berperan serta siswa dalam menemukan ide atau gagasan dengan
berbagai macam aktifitas.
Rumusan Masalah
Setelah memaparkan latar belakang,
selanjutnya penyusun akan mencoba untuk merumuskan masalah-masalah apa saja
yang akan dibahas. Agar pembahasan lebih terfokus pada permasalahan, maka
penyusun membatasi pokok kajian dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut.
1. Bagaimana
karakteristik metode kolaboratif ?
2. Apa
saja tujuan model pembelajaran kolaboratif ?
3. Bagaimana
langkah-langkah model pembelajaran kolaboratif ?
4. Apa
saja macam-macam atau pendekatan kolaboratif ?
5. Bagaimana
kelebihan dan kekurangan model kolaboratif ?
1. Karakteristik Metode Kolaboratif
Karakteristik dalam belajar
kolaboratif adalah :
1) Siswa belajar dalam satu kelompok
dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas
kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
2) Interaksi intensif secara tatap muka
antar anggota kelompok.
3) Masing-masing siswa bertanggung
jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
4) Siswa harus belajar dan memiliki
ketrampilan komunikasi interpesonal.
5) Peran guru sebagai mediator.
6) Adanya sharing pengetahuan
dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
7) Pengelompokkan secara heterogen.
Pembelajaran kolaboratif dapat
menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai
teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif
melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan
antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan
formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu: (1) realisasi
praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam
kehidupan di dunia nyata; (2) menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam
upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai
siswa proses belajar sebagai berikut (Smith & MacGregor, 1992):
1)
Belajar itu
aktif dan konstruktif
Untuk
mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan
itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang
terkait dengan bahan pelajaran.
2)
Belajar itu
bergantung konteks
Kegiatan
pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah menantang yang terkait
dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam
penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.
3)
Siswa itu
beraneka latar belakang
Para
siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang, gaya
belajar, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima
dalam kegiatan kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu
pencapaian hasil bersama dalam proses belajar.
4)
Belajar itu
bersifat sosial
Proses
belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun
makna yang diterima bersama.
2. Tujuan Model Pembelajaran
Kolaboratif
Hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu
bagaimana cara agar siswa
dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan
pertukaran informasi.
Struktur tujuan kolaboratif dicirikan oleh jumlah saling ketergantungan yang begitu
besar antar siswa dalam kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa mengatakan
“we as well as you”, dan siswa akan mencapai tujuan hanya jika siswa lain dalam
kelompok yang sama dapat mencapai tujuan mereka bersama (Arends, 1998; Heinich
et al., 2002; Slavin, 1995; Qin & Johnson, 1995). Dapat disimpulkan bahwa
tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
1) Memaksimalkan proses kerjasama yang
berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
2) Menciptakan lingkungan pembelajaran
yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
3) Menghargai pentingnya keaslian,
kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan
proses belajar.
4) Memberi kesempatan kepada siswa
menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
5) Mengembangkan berpikir kritis dan
ketrampilan pemecahan masalah.
6) Mendorong eksplorasi bahan pelajaran
yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
7) Menghargai pentingnya konteks sosial
bagi proses belajar.
8) Menumbuhkan hubungan yang saling
mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan
guru.
9) Membangun semangat belajar sepanjang
hayat.
Menurut Piaget dan Vigotsky, Strategi pembelajaran kolaboratif
didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:
a. Teori Kognitif
Teori ini
berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada
pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses
transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
b. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat
adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan
individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semu anggota semua
kelompok.
c. Teori Motivasi
Teori ini
teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran
tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar,
menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan situasi
saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
Berikut ini langkah-langkah
pembelajaran kolaboratif.
1)
Para
siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2)
Semua
siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3)
Kelompok
kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan,
meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah
dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4)
Setelah
kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa
menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5)
Guru
menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua
kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi
kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati,
mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan
ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6)
Masing-masing
siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi
(bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7)
Laporan
masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun
perkelompok kolaboratif.
8)
Laporan
siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya,
dan didiskusikan.
4. Pendekatan Kolaboratif
1) Teams-Games-Tournament
(TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya
sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain
sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah
nilai yang diperoleh kelompok.
2) Team
Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan
kombinasi antara pembelajaran kooperatif dan kolaboratif dengan pembelajaran
individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang
harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian
bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan
benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang
siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus
menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun
berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar
individual maupun kelompok.
3) Student
Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling
belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan
berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan
kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian
didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
4) Jigsaw
Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini,
anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok
bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes
diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata
skor tes kelompok.
5)
Numbered-Head Together (NHT)
Pembelajaran ini merupakan varian
dari diskusi kelompok. Siswa dapat berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban
yang paling tepat. Siswa yang mendapat nomor acak dipanggil untuk
memperesentasikan hasil diskusi kelompok.
6)
Think-Pair Share (TPS)
Pembelajaran yang ampuh dalam
meningkatkan respon siswa terhadap pertanyaan. Memungkinkan siswa untuk bekerja
sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Dibagi kelompok, setiap anggota
mengerjakan tugasnya sendiri, lalu diskusi berpasangan, kemudian kembali
diskusi bersama dalam kelompok.
7)
Two-Stay Two-Stray
Pembelajaran kelompok agar siswa
dapat saling bekerja sama, bertanggung jawba, saling membantu memcahkan
masalah, dan saling mendorong satau sama lain untuk berprestasi, serta melatih
siswa untuk bersosialisasi dengan baik. Setelah belajar bersama
kelompoknya sendiri, dua orang anggota kelompok bertamu ke kelompok lain,
sedang dua yang lain membagikan hasil kerja kepada tamu, setelah itu kelompok
mencocokan dan membahas hasil kerja.
8)
Role
Playing
Pembelajaran sebagai suatu bentuk
aktivitas dimana siswa membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas
dan memainkan peran orang lain. Melibatkan emosional dan pengamatan indera ke
dalam situasi permasalahan yang secara nyata dihadapi.
9)
Cooperative Script
Pembelajaran dimana siswa bekerja
berpasangan menemukan ide-ide pokok dari gagasan besar yang disampaikan oleh
guru. Strategi ini ditujukan untuk membantu siswa berpikir sistematis dan
berkonsentrasi pada materi pelajaran.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model
Pembelajaran Kolaboratif
Kelebihan model kolaboratif :
a.
Siswa belajar bermusyawarah
b.
Siswa belajar menghargai pendapat orang
lain
c.
Dapat mengembangkan cara berpikir kritis
dan rasional
d.
Dapat memupuk rasa kerja sama
e.
Adanya persaingan yang sehat
Kekurangan
model kolaboratif :
a.
Sulit untuk membentuk kelompok yang
solid dan dapat bekerja sama dengan baik
b.
Membutuhkan waktu cukup banyak
c.
Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin
menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu
tergantung pada orang lain.
Joyce,
B. R., & Weil, M. 2009. Models of
Teaching (edisi ke-8). (1972 1st ed.) Boston: Allyn and Bacon.
Johnson, D.W, R. Jhonson, and K.
Smith. (1991). Active Learning:
Coperative in
the Callage Classroom.
Edina, Minn: Interaction Book Company.
Qin, Z., Johnson, D. W., & Johnson, R. T. 1995. Cooperative versus competitive efforts
and
problem solving. Review of Educational Research. 65(2).
129-143.
Slavin, R. E. 1995. Cooperative learning. Second edition. Boston: Allyn and Bacon.
Smith, B. L. & MacGregor, J. T. (1992). What is
Collaborative Learning? Washington: Washington Center fot Improving the Quality
of Yndergraduate Education.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar