Minggu, 21 September 2014

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI (COLLABORATIVE LEARNING)




Latar Belakang



Sejumlah strategi intruksional untuk mencapai tujuan pengajaran yag berbeda-beda sudah dikembangkan oleh para pakar yang berbeda pula. Joyce dan Weil mendeskripsikan model pembelajaran sebagai rencana atau pola yang dpat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi-materi intruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas. Bagi guru model-model ini penting dalam merancang kurikulum pada siswa-siswanya dan dapat membantu siswa berpikir kreatif dan produktif. Aspek dalam setiap model yang digunakan dalam merancang kurikulum sebaiknya pemilihan bergantung pada lingkungan sekolah, sumber yang tersedia, dan outcomes yang diinginkan. Ketika berencana memasukkan salah satu atau beberapa model ke dalam suau program tertentu, guru seharusnya menggunakan kinerja-kerja kurikulum yang didalamnya berisi prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran untuk memandu belajar siswa, penilaian atau assessment untuk melihat hasil akademik yang telah diperoleh siswa, serta untuk menghindari kejenuhan yang terkadang terjadi pada siswa terhadap metode pembelajaran yang masih konvensional.



Penerapan metode mengajar yang bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Penerapan metode mengajar yang bervariasi ini untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar sekaligus sebagai salah satu indikasi dalam peningkatan kualitas pendidikan. Penerapan pembelajaran kolaboratif menurut hasil penelitian Johnson dan Smith (Barkley, 2005: 3) berkesimpulan bahwa kelompok belajar merupakan metode yang efektif untuk membangun pengetahuan bagi siswa. Pembelajaran kolaboratif menitikberatkan pada proses belajar dalam kelompok kecil yang masing-masing anggota kelompok saling membantu dan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menemukan ide atau gagasan dalam pemecahan masalah. Siswa mempunyai akan belajar dengan baik jika diberi kesempatan untuk berperan serta siswa dalam menemukan ide atau gagasan dengan berbagai macam aktifitas.



Rumusan Masalah



Setelah memaparkan latar belakang, selanjutnya penyusun akan mencoba untuk merumuskan masalah-masalah apa saja yang akan dibahas. Agar pembahasan lebih terfokus pada permasalahan, maka penyusun membatasi pokok kajian dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut.

1.      Bagaimana karakteristik metode kolaboratif ?

2.      Apa saja tujuan model pembelajaran kolaboratif ?

3.      Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran kolaboratif ?

4.      Apa saja macam-macam atau pendekatan kolaboratif ?

5.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan model kolaboratif ?




1. Karakteristik Metode Kolaboratif



Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :

1)     Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.

2)      Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.

3)      Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.

4)      Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.

5)      Peran guru sebagai mediator.

6)      Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.

7)      Pengelompokkan secara heterogen.



Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu: (1) realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata; (2) menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.



Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa proses belajar sebagai berikut (Smith & MacGregor, 1992): 


1)      Belajar itu aktif dan konstruktif

Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang terkait dengan bahan pelajaran.

2)      Belajar itu bergantung konteks

Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.

3)      Siswa itu beraneka latar belakang

Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama dalam proses belajar.

4)      Belajar itu bersifat sosial

Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.



2.  Tujuan Model Pembelajaran Kolaboratif


Hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi. Struktur tujuan kolaboratif dicirikan oleh jumlah saling ketergantungan yang begitu besar antar siswa dalam kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa mengatakan “we as well as you”, dan siswa akan mencapai tujuan hanya jika siswa lain dalam kelompok yang sama dapat mencapai tujuan mereka bersama (Arends, 1998; Heinich et al., 2002; Slavin, 1995; Qin & Johnson, 1995). Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :

1)      Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.

2)      Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.

3)      Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.

4)      Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.

5)      Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.

6)      Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.

7)      Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.

8)      Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.

9)      Membangun semangat belajar sepanjang hayat.


Menurut Piaget dan Vigotsky, Strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:


a.       Teori Kognitif

Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.



b.      Teori Konstruktivisme Sosial

Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan  individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semu anggota semua kelompok.


c.       Teori Motivasi

Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.


3.  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kolaboratif


Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.

1)      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.

2)      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.

3)      Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.

4)      Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.

5)      Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.

6)      Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.

7)      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.

8)      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.





 4. Pendekatan Kolaboratif



1)      Teams-Games-Tournament (TGT)

Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.





2)      Team Accelerated Instruction (TAI)

Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif dan kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.



3)      Student Team Achievement Divisions (STAD)

Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.



4)      Jigsaw Proscedure (JP)

Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.



5)      Numbered-Head Together (NHT)

Pembelajaran ini merupakan varian dari diskusi kelompok. Siswa dapat berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Siswa yang mendapat nomor acak dipanggil untuk memperesentasikan hasil diskusi kelompok.



6)      Think-Pair Share (TPS)

Pembelajaran yang ampuh dalam meningkatkan respon siswa terhadap pertanyaan. Memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Dibagi kelompok, setiap anggota mengerjakan tugasnya sendiri, lalu diskusi berpasangan, kemudian kembali diskusi bersama dalam kelompok.



7)      Two-Stay Two-Stray

Pembelajaran kelompok agar siswa dapat saling bekerja sama, bertanggung jawba, saling membantu memcahkan masalah, dan saling mendorong satau sama lain untuk berprestasi, serta melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik. Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, dua orang anggota kelompok bertamu ke kelompok lain, sedang dua yang lain membagikan hasil kerja kepada tamu, setelah itu kelompok mencocokan dan membahas hasil kerja.



8)      Role Playing

Pembelajaran sebagai suatu bentuk aktivitas dimana siswa membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain. Melibatkan emosional dan pengamatan indera ke dalam situasi permasalahan yang secara nyata dihadapi.



9)      Cooperative Script

Pembelajaran dimana siswa bekerja berpasangan menemukan ide-ide pokok dari gagasan besar yang disampaikan oleh guru. Strategi ini ditujukan untuk membantu siswa berpikir sistematis dan berkonsentrasi pada materi pelajaran.





5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kolaboratif



Kelebihan model kolaboratif :



a.       Siswa belajar bermusyawarah

b.      Siswa belajar menghargai pendapat orang lain

c.       Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional

d.      Dapat memupuk rasa kerja sama

e.       Adanya persaingan yang sehat



Kekurangan model kolaboratif :

a.       Sulit untuk membentuk kelompok yang solid dan dapat bekerja sama dengan baik

b.      Membutuhkan waktu cukup banyak

c.       Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.



DAFTAR PUSTAKA 

Joyce, B. R., & Weil, M. 2009. Models of Teaching (edisi ke-8). (1972 1st ed.) Boston: Allyn and Bacon.


Johnson, D.W, R. Jhonson, and K. Smith. (1991). Active Learning: Coperative in

the Callage Classroom. Edina, Minn: Interaction Book Company.



Qin, Z., Johnson, D. W., & Johnson, R. T. 1995. Cooperative versus competitive efforts

and problem solving. Review of Educational Research. 65(2). 129-143.


Slavin, R. E. 1995. Cooperative learning. Second edition. Boston: Allyn and Bacon.

Smith, B. L. & MacGregor, J. T. (1992). What is Collaborative Learning? Washington: Washington Center fot Improving the Quality of Yndergraduate Education.


http://garduguru.blogspot.com/2008/12/metode-kolaboratif-untuk-pembelajaran.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar