BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Setiap manusia,
sebagai individu yang normal, akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
Proses perkembangan kehidupan manusia melalui beberapa tahapan. Umunya, manusia
akan selalu berubah mengikuti proses perkembangan di sekitar kehidupannya,
dimulai sejak masa prenatal, masa bayi, lalu tumbuh menjadi seorang remaja,
dewasa, dan kemudian meninggal.
Tahapan
pertumbuhan dan perkembangan yang akan kami bahas adalah pada masa remaja.
Mulai dari makna pertumbuhan dan perkembangan, karakteristik, hukum, hingga
jenis-jenis kebutuhan dan pemenuhannya.
Remaja merupakan
salah satu masa pertumbuhan manusia yang sangat menentukan masa depannya. Hal
ini karena remaja memiliki emosi yang masih labil dan mempunyai kecenderungan
untuk menirukan apa-apa saja yang dia liat maupun yang dia dengar. Masa remaja
adalah masa yang membuat seseorang ingin melakukan segala hal yang bertentangan
dengan aturan umum, mereka ingin bebas, merasa lebih hebat dan suka terhadap
tantangan. Pertumbuhan fisik juga berjalan sangat cepat seiring dengan
perkembangan pola pikir dan psikisnya. Karena hal tersebut di atas, maka kami
merasa tertarik untuk mengkaji dan membahasnya luas dalam makalah ini.
1.2
Rumusan
Masalah
Setelah
memaparkan latar belakang masalah pengkajian makalah pertumbuhan dan
perkembangan remaja tersebut di atas, selanjutnya kami akan mencoba untuk
merumuskan masalah-masalah apa saja yang akan dibahas dalam makalah ini. Agar
pembahasan lebih terfokus pada permasalahan, maka kami membatasi pokok kajian
dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut.
1.
Bagaimana
hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan ?
2.
Apa
saja karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja ?
3.
Apa
saja jenis-jenis kebutuhan dan cara pemenuhannya ?
1.3
Tujuan
Adapun yang
menjadi tujuan penulisan makalah ini, yaitu:
1.
Memahami
hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan.
2.
Mengetahui
karakteristik pertumbuhan dan perkembanga remaja.
3.
Mengetahui
jenis-jenis kebutuhan dan memahami cara pemenuhannya.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Makna Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan
berkaitan dengan pertumbuhan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan
struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai dari
hasil proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada
anak yang sehat dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan juga dapat
diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau
keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara
berkesinambungan. Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran
kuantitatif badan anak, seperti panjang , berat, dan kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup
perubahan yang makin sempurna tentang sistem jaringan saraf dan
perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Perubahan-perubahan tersebut
meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis yang dibgi menjadi empat
kategori, yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan
untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh hal-hal yang
baru.
Dalam
pertumbuhannya, setiap bagian tubuh itu mempunyai perbedaan tempo kecepatan.
Misalnya, pertumbuhan alat kelamin berlangsung paling lambat pada masa
kanak-kanak, tetapi mengalami percepatan pada masa pubertas. Sebaliknya,
pertumbuhan susunan saraf pusat berlangsung paling cepat pada masa kanak-kanak
kemudian menjadi lambat pada ahir masa kanak-kanak, dan relatif berhenti pada
masa pubertas. Jadi, istilah pertumbuhan dimaksudkan dalam ukuran-ukuran badan
dan fungsi-fungsi biologis.
Perkembangan
merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi
manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih
luas dan kompleks. Secara sadar pada akhir masa kanak-kanak seorang individu
berupaya untuk dapat bersikap dan berperilaku lebih dewasa. Hal ini merupakan
“tugas” yang cukup berat bagi para remaja untuk lebih menuntaskan tugas-tugas
perkembangannya, sehubungan dengan semakin luas dan kompleksnya kondisi
kehidupan yang harus dihadapi. Tidak lagi ia dijuluki sebagai anak-anak,
melainkan ingin dihargai dan diakui sebagai orang yang sudah dewasa. Dengan
demikian, para remaja menjalani tugas mempersiapkan diri untuk dapat hidup
dewasa, dalam ari mampu menghadapi masalah-masalah, bertindak dan
bertanggungjawab sendiri. Oleh karena itu, tugas perkembangan pada masa remaja
ini dipusatkan pada upaya untuk menanggulangi sikap dan pola perilaku
kekanak-kanakan.
2.2
Hukum-hukum
Pertumbuhan dan Perkembangan
Hukum pertumbuhan
Menurut
Satoto,1993. Terdapat dua hukum pertumbuhan fisik yang berlaku umum dan
menyeluruh yaitu:
1)
Hukum Chepa Lacaudal, pertumbuhan
dimulai dari arah kepala menuju ke kaki. Dalam hukum ini bagian kepala tumbuh
lebih dahulu daripada daerah-daerah lain. Kematangan pertumbuhan juga
berlangsung lebih dahulu di bagian kepala, kemudian berlanjut ke bagian-bagian
lain dari tubuh.(Siti Hartinah,2011:33). Menurut hukum chepa lacaudal, pertumbuhan fisik seseorang di
mulai dari arah kepala baru menuju kearah lain bagian tubuh.
2)
Hukum proximodistal, pertumbuhan
berpusat dari daerah sumbu (proximo) ke arah tepi(distal). (Siti Hartinah,2011:33).
Menurut hokum proximodistal pertumbuhan dimulai dari sumbu yang terdiri dari
jantung,alat pernapasan dan alat pencernaan yang akan tumbuh terlebih dahulu
dan lebih pesat apabila dibandingkan dengan didaerah tepi, miosalnya anggota
tubuh lain (anggota gerak badan).
Hukum
perkembangan
Hukum
perkembangan adalah prinsip-prinsip yang mendasari perkembangan fisik maupun
psikis individu. Macam macam hukum perkembangan tersebut terdiri dari:
1)
Hukum Tempo Perkembangan
Istilah tempo berarti waktu atau masa.
Hokum tempo perkembangan bermakna berlangsungnya perkembangan individu yang
satu tidak sama cepat atau lambatnya dengan
individu yang lain. (Siti hartinah, 2011: 62). Ada individu yang dalam
perkembangannya serba cepat misalnya dalam hal pemahaman suatu pelajaran,
tetapi ada pula individu yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyamai
individu yang lain. Tidak lain semuanya ini menyangkut tempo perkembangan dan
ini telah menjadi hukum yang pasti bahwa
setiap individu mempunyai
kecepatan(tempo) perkembangan yang berbeda-beda menurut indivudunya
sendiri
2)
Hukum Irama Perkembangan
Yakni variasi atau fluktuasi naik
turunnya perkembangan individu berlangsung dengan irama perkembangan yang tidak
selalu dengan irama perkembangan yang konstan, tetapi kadang dengan irama yang
cepat,lambat bahkan kadang-kadang berhenti kemudian dengan cepat berpacu.( Siti
hartinah, 2011: 62). Dalam Hukum ini menyatakan bahwa, bahwa berlangsungnya
perkembangan itu tidak selalu tetap konsisten dan merata pada setiap waktu.
Hukum irama perkembangan mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya
perkembangan individu, akan tetapi tentang irama atau rythme perkembangan. Jadi
perkembangan individu ini mengalami gelombang “Pasang Surut”, mulai lahir
hingga dewasa, kadangkala anak tersebut mengalami juga kemunduran dalam suatu
bidang tertentu.
3)
Hukum Rekapitulasi
Dikatakan bahwa perkembangan psikis
individu akan pengulangan urutan tingkah laku dari perkembangan nenek moyang
suatu bangsa.( Siti hartinah, 2011: 63). Hukum ini mejelaskan, Perkembangan
psikis anak adalah ulangan secara singkat perkembangan umat manusia. Dari
Seluruh perkembangan umat manusia terulang dalam waktu beberapa tahun secara
singkat dalam perkembangan individu yang bersangkutan.
4)
Hukum Masa Peka
Menurut M. Montessori “Dalam
perkembangan anak terdapat suatu saat yang sangat tepat bagi suatu fungsi untuk
dapat berkembangan dengan baik sekali atau sangat sensitive dan sangat dengan
mudah untuk merespon stimulus yang dating kepada dirinya. (Siti Hartinah, 2011:
63). Pada masa ini anak mempunyai kesiapan terbaik untuk melaksanakan tugas
perkembangan dalam fungsi tertentu. Oleh karena itu harus dilayani dan diberi
kesempatan sebaik-baiknya untuk menjalankan fungsi tersebut.
5)
Hukum Truzalter( Masa Menentang)
Pelaksanaan individu tidak selalu
berlangsung dengan tenang dan teratur tetapi pada masa tertentu terjadi
guncangan yang membawa perubahan secara radikal.( Siti Hartinah, 2011: 65). Hukum
ini menyatakan perkembangan individu itu tidak selalu mulus sesuai dengan
keinginan dari individu tersebut. Tetapi selalu ada macam-macam rintangan yang
dapat mengganggu jalannya perkembangan tersebut. Dalam proses tersebut selalu
ada hambatan yang dapat membawa perubahan yang baik terhadap individu tersebut.
6)
Hukum Masa Eksploratif
Menurut langeveld,” perkembangan
individu merupakan suatu proses yang berlangsung sebagai suatu penjelajahan dan
penemuan pada individu yang bersangkutan. (Siti Hartinah, 2011: 65). Dalam
hokum ini msngandung arti bahwa perkembangan individu diperlukan adanya suatu
proses penjelajahan yang aman individu yang bersangkutan ikut serta dalam
mencapai suatu tujuan perkembangan.
7)
Hukum Pertahanan Diri
Yakni suatu respon dalam bentuk sikap
atau perilaku individu dimunculkan ketika dirinya merasa mendapatkan stimulus
yang tidak sesuai atau tidak menyanangkan. ( Siti Hartinah, 2011: 66). Dorongan mempertahankan diri terwujud misalnya dorongan
seseorang dalam mencapai suatu tujuan
dan menjaga keselamatan diri sendiri. Dari usaha untuk
memepertahankan diri berlanjut menjadi usaha untuk mengembangkan diri. Hukum
mengembangkan diri mengandung arti bahwa setiap individu memiliki dorongan
ilmiah untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya tetapi keberhasilan hal
tersebut memerlukan usaha yang aktif dan kreatif.
2.3
Karakteristik
Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Masa
remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang
cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi
selama masa remaja, yaitu:
1)
Peningkatan
emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan
sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari
perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi
kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam
kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan
dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak
lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung
jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya
waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di masa kuliah.
2)
Perubahan
yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang
perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka
sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal
seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan
eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat
berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
3)
Perubahan
dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa
remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak
digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga
dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka
remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang
lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja
tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama,
tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
4)
Perubahan
nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa
kanak- kanak menjadi kurang penting karena sudah
mendekati dewasa. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi
perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di
sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut,
serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab
tersebut.Remaja ada diantara anak dan orang dewasa ,remaja masih belum mampu
untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnya.
Ditinjau
dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan anak-anak, mereka masih harus
menemukan tempat di dalam masyarakat. Remaja ada dalam tempat marginal. Berhubung
ada macam-macam persyaratan untuk dapat dikatakan dewasa maka lebih mudah untuk
dimasukan katergori anak dari pada dewasa. Baru pada abad ke 18 maka masa
remaja di pandang sebagai periode tertentu lepas dari periode kanak-kanak. Meskipun
begitu kedudukan dan status remaja berbeda dari pada anak, masa remaja
menunjukan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja
belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak.
Dipandang dari segi sosial, remaja mempunyai posisi marginal, penelitian Roscoe
dan Peterson membuktikan hal ini.
2.4
Jenis-jenis
Kebutuhan dan Pemenuhannya
Kebutuhan
remaja dapat dibedakan atas 2 jenis yaitu kebutuhan fisik dan psikologis.
Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada
dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses
pertumbuhan, dan perkembangan dari proses sebelumnya. Seperti halnya
pertumbuhan fisik yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder
merupakan awal masa remaja sebagai indikator menuju tingkat kematangan fungsi
seksual seseorang. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam pertumbuhan fisik dan
kebutuhan sosial psikologis yang lebih menonjol. Bahwa antara kebutuhan
keduanya (fisik dan psikologis) saling terkait. Oleh karena itu, pembagian yang
memisahkan kebutuhan atas dasar kebutuhan fisik dan psikologis pada dasarnya sulit
dilakukan secara tegas. Sebagai contoh, “makan” adalah upaya untuk memenuhi
kebutuhan fisik, akan tetapi pada jenjang masa remaja “makan dilakukan bersama
dengan orang tertentu/orang lain”, “makan dengan mengikuti aturan atau norma”
yang berlaku didalam budaya kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan yang tidak
hanya dikelompokkan sebagai kebutuhan fisik semata. Kebutuhan tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam kebutuhan sosial emosional. (Fadullah, 2011)
Secara lengkap
kebutuhan dasar seorang individu dapat digambarkan sebagai berikut (Lindgren,
1980:42).
No.
|
Deskripsi
|
Karakteristik
|
1.
2.
3.
4.
|
Kebutuhan jasmaniah, termasuk keamanan dan
pertahanan diri
Kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang
Kebutuhan untuk memiliki
Kebutuhan untuk memiliki
|
Kebutuhan yang terkait dengan pertahanan diri,
khususnya pemeliharaan dan pertahanan diri, bersifat individual
Kebutuhan yang terkait langsung dengan
pengembangan diri, yang relatif kompleks, abstrak, dan bersifat sosial
|
Lima jenis kebutuhan menurut
Maslow itu adalah sebagai berikut:
1) Kebutuhan
Fisiologis
Kebutuhan yang mendapat prioritas utama yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan kondisi fisik, yang disebut “kebutuhan fisiologis”. Contoh dari kebutuhan ini adalah makan, minum, tempat tinggal, pemuasan seksual, udara segar, istirahat dan sebagainya.
Kebutuhan yang mendapat prioritas utama yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan kondisi fisik, yang disebut “kebutuhan fisiologis”. Contoh dari kebutuhan ini adalah makan, minum, tempat tinggal, pemuasan seksual, udara segar, istirahat dan sebagainya.
2) Kebutuhan
rasa aman dan tentram
Kebutuhan rasa aman dan tentram (safety and security) ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat psikis misalnya terbebas dari gangguan dan ancaman serta permasalahan yang dapat mengganggu ketenangan hidup seseorang.
Kebutuhan rasa aman dan tentram (safety and security) ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat psikis misalnya terbebas dari gangguan dan ancaman serta permasalahan yang dapat mengganggu ketenangan hidup seseorang.
3) Kebutuhan
akan cinta dan rasa memiliki
Kebutuhan ini (love and belongingness) diaktualisasikan dalam bentuk perasaan diterima oleh orang lain, merasa bahwa dirinya penting, diikut sertakan dalam kehidupan kelompok.
Kebutuhan ini (love and belongingness) diaktualisasikan dalam bentuk perasaan diterima oleh orang lain, merasa bahwa dirinya penting, diikut sertakan dalam kehidupan kelompok.
4) Kebutuhan
harga diri
Kebutuhan ini lebih sering
dikaitkan dengan prilaku ataupun sifat seseorang yang nantinya akan
mencerminkan harga diri orang tersebut. Dalam beberapa kasus, kebutuhan ini
akan sangat mempengaruhi penilaian orang lain terhadap orang tersebut.
Menurut Elida Prayitno (2006:31)
kebutuhan psikologis remaja dibagai atas:
·
Kebutuhan mendapat status
Remaja membutuhkan perasaan
bahwa dirinya berguna, penting, dibutuhkan orang lain atau memiliki kebanggaan
terhadap dirinya sendiri. Remaja butuh kebanggaan untuk dikenal dan diterima
sebagai individu yang berarti dalam kelompok teman sebayanya. Penerimaan dan
dibanggakan oleh kelompok sangat penting bagi remaja dalam mencari kepercayaan
diri dan kemandirian sebagai persiapan awal untuk menempuh kehidupan pada
periode dewasa. (Fadullah, 2011).
·
Kebutuhan kemandirian
Remaja ingin lepas dari
pembatasan atau aturan orang tua dan mencoba mengarahkan atau mendisiplinkan
diri sendiri. Remaja ingin bebas dari tingkah laku orang tuanya yang terlalu
mencampuri kegiatannya. Remaja ingin mengatur kehidupannya sendiri. (Fadullah,
2011).
·
Kebutuhan berprestasi
Remaja ingin dirinya dihargai
dan dibanggakan atas usaha dan prestasinya dalam belajar. (Fadullah, 2011).
·
Kebutuhan diakrabi
Remaja butuh ide atau
pemikirannya, kebutuhan atau masalahnya didengarkan dan ditanggapi secara akrab
(penuh perhatian) oleh orang tua, guru, dan teman sebayanya. (Fadullah, 2011).
·
Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup
Remaja butuh pegangan hidup
mengenai kebenaran agar mereka memiliki kepribadian yang stabil dan
terintegrasi. (Fadullah, 2011).
Perkembangan Remaja
Hubungan sosial
(sosialisasi) merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan
sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas, yang didasari oleh
kebutuhan sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia
menjadi semakin kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi
amat kompleks. Jadi, pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya
tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup
manusia. (Atya, 2012)
Belajar hidup bersosialisasi
memerlukan sekurangnya tiga proses berikut:
·
Belajar berperilaku yang dapat diterima secara
sosial. Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang
perilaku yang dapat diterima dalam kelompok tersebut. (Queen, 2012).
·
Perkembangan sikap sosial. Untuk dapat bergaul
dalam masyarakat, seseorang juga harus menyukai orang atau terlibat dalam
aktivitas sosial tertentu. Jika anak dapat melakukannya dengan baik, maka ia
dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota
kelompok. (Queen, 2012).
·
Memainkan peran sosial yang dapat diterima. Agar
dapat diterima dalam kelompok selain dapat menyesuaikan perilaku dengan standar
kelompok, seseorang juga dituntut untuk memainkan peran sosial dalam
bentuk pola-pola kebiasaan yang telah disetujui dan ditentukan oleh para
anggota kelompok. (Queen, 2012)
Remaja pada
tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada
jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial
dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap
lingkungannya, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma
pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam
keluarganya. (Khanifah, 2011). Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan
saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai
memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok
dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis
dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus
memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya
kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup. (Khanifah, 2011).
Masalah
dan Konsekuensinya
Beberapa masalah yang
dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya yang dapat diuraikan
sebagai berikut (Khanifah, 2011):
1) Upaya
untuk dapat megubah sikap dan prilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan prilaku
orang dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja
laki-laki maupun perempuan. Kegagalan dalam mengatasi ketidakpuasan ini dapat
mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat lebih lanjut menjadikan remaja
bersikap keras dan agresif atau sebaliknya tidak percaya diri, pendiam, atau
kurang harga diri.
2) Seringkali
para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya.
Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini disebabkan
pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi. Ketidakserasian proporsi tubuh ini
sering menimbulkan keganjalan, Karena ia (mereka) sulit untuk mendapatkan
pakaian yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan atau prilaku ynag
kelihatannya wagu dan tidak puas.
3) Perkembangan
fungsi seks pada masa ini dapat meinbulkan kebinggungan remaja untuk
memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan prilaku yang menentang
norma. Pandanganya terhadap sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan
kesulitan dalam pergaulan.
4) Dalam
memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian,
dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan,
kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian
emosional, seperti over acting, lancing, dan semacamnya.
5) Harapan-harapan
untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara social ekonomis akan
berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan
jenis pendidikan. Penyesuaian social merupakan salah satu yang sangat sulit
dihadapi oleh remaja karena mereka juga harus menghadapi norma baru dalam
kehidupan sebaya remaja dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya.
6) Berbagai
norma dan nilai yang berlaku didalam hidup masyarakat merupakan masalah
tersendiri bagi remaja. Dalam hal ini remaja menghadapi perbedaan nilai dan
norma kehidupan. Seringkali perbedaan norma yang berlaku dan norma ynag
dianutnya menimbulkan prilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan nakal.
Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja
Pemenuhan
kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan ini harus
dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya
agar tetap tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhanserupa di
masa perkembangan sebelumnya, kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh faktor
ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik
ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan
psikososial seorang individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan,
hidup terlalu dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah, dan
lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja.
BAB 3
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pertumbuhan
adalah perubahan secara fisiologis sebagai dari hasil proses pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam
perjalanan waktu tertentu. Sedangkan perkembangan merupakan suatu proses yang
menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang
harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Pada
jenjang kehidupan remaja, seseorang telah berada pada posisi yang cukup
kompleks, dimana ia telah banyak menyeleseikan tugas-tugas pertumbuhan dan
perkembangannya.
Hukum
pertumbuhan dan perkembangan menerangkan
bagaimana sebuah perubahan secara fisik dan mental berlangsung secara terus
menerus dialami dari masa-masa. Hukum pertumbuhan dan perkembangan juga dapat
dinyatakan sebagai suatu konsepsi yang biasanya bersifat deduktif dan
menunjukkan adanya hubungan yang ajeg (continue) serta dapat diramalkan
sebelumnya antara variabel-variabel yang empirik (Tejaputri, 2013). Masa remaja
adalah suatu masa perubahan. Perubahan itu antara lain, Peningkatan emosional,
perubahan kematangan seksual, perubahan hubungan bagi dirinya dengan orang
lain, serta perubahan nilai.
Perilaku
manusia disebabkan oleh dorongan-dorongan atau motif. Motif inilah yang
mendorong individu sehingga muncul berbagai kebutuhan misalnya kebutuhan untuk
mempertahakan diri dan kebutuhan untuk mengembangkan diri. Kebutuhan untuk
berafiliasi dengan sesama dan kebutuhan untuk berprestasi merupakan
kebutuhan-kebutuhan dasar manusia setelah mencapai jenjang remaja.
3.2
Saran
Adapun saran
dalam makalah ini adalah, baik antara kebutuhan fisik maupun kebutuhan
psikologis pada remaja, selayaknya mendapat perhatian baik dari orang tua,
sekolah maupun dalam kehidupan bermayarakatnya. Hal ini dimaksudkan agar remaja
tersebut dapat dengan mudah untuk beradaptasi dan mencari jati dirinya sendiri.
Lalu selain dari proses sosialisasi pada remaja, perlu adanya bimbingan kepada
mereka agar tidak salah memahami bagaimana cara bersosialisasi agar mereka
tidak melewati norma-norma yang telah ditentukan, disamping itu agar mereka
tidak gagal dalam mengatasi masalah-masalah yang mereka alami, perlu adanya
pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan orang terdekatnya, sehingga mereka
dapat menerima dan mengatasi problema-problema dalam kehidupannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar