Senin, 07 April 2014

Makalah Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Setiap manusia, sebagai individu yang normal, akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Proses perkembangan kehidupan manusia melalui beberapa tahapan. Umunya, manusia akan selalu berubah mengikuti proses perkembangan di sekitar kehidupannya, dimulai sejak masa prenatal, masa bayi, lalu tumbuh menjadi seorang remaja, dewasa, dan kemudian meninggal.
Tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang akan kami bahas adalah pada masa remaja. Mulai dari makna pertumbuhan dan perkembangan, karakteristik, hukum, hingga jenis-jenis kebutuhan dan pemenuhannya.
Remaja merupakan salah satu masa pertumbuhan manusia yang sangat menentukan masa depannya. Hal ini karena remaja memiliki emosi yang masih labil dan mempunyai kecenderungan untuk menirukan apa-apa saja yang dia liat maupun yang dia dengar. Masa remaja adalah masa yang membuat seseorang ingin melakukan segala hal yang bertentangan dengan aturan umum, mereka ingin bebas, merasa lebih hebat dan suka terhadap tantangan. Pertumbuhan fisik juga berjalan sangat cepat seiring dengan perkembangan pola pikir dan psikisnya. Karena hal tersebut di atas, maka kami merasa tertarik untuk mengkaji dan membahasnya luas dalam makalah ini.

1.2    Rumusan Masalah

Setelah memaparkan latar belakang masalah pengkajian makalah pertumbuhan dan perkembangan remaja tersebut di atas, selanjutnya kami akan mencoba untuk merumuskan masalah-masalah apa saja yang akan dibahas dalam makalah ini. Agar pembahasan lebih terfokus pada permasalahan, maka kami membatasi pokok kajian dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut.

1.      Bagaimana hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan ?
2.      Apa saja karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja ?
3.      Apa saja jenis-jenis kebutuhan dan cara pemenuhannya ?

1.3    Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini, yaitu:
1.      Memahami hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan.
2.      Mengetahui karakteristik pertumbuhan dan perkembanga remaja.
3.      Mengetahui jenis-jenis kebutuhan dan memahami cara pemenuhannya.


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1       Makna Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan berkaitan dengan pertumbuhan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai dari hasil proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan juga dapat diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran kuantitatif badan anak, seperti panjang , berat, dan kekuatannya.  Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin sempurna tentang sistem jaringan saraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Perubahan-perubahan tersebut meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis yang dibgi menjadi empat kategori, yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh hal-hal yang baru.

Dalam pertumbuhannya, setiap bagian tubuh itu mempunyai perbedaan tempo kecepatan. Misalnya, pertumbuhan alat kelamin berlangsung paling lambat pada masa kanak-kanak, tetapi mengalami percepatan pada masa pubertas. Sebaliknya, pertumbuhan susunan saraf pusat berlangsung paling cepat pada masa kanak-kanak kemudian menjadi lambat pada ahir masa kanak-kanak, dan relatif berhenti pada masa pubertas. Jadi, istilah pertumbuhan dimaksudkan dalam ukuran-ukuran badan dan fungsi-fungsi biologis.

Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Secara sadar pada akhir masa kanak-kanak seorang individu berupaya untuk dapat bersikap dan berperilaku lebih dewasa. Hal ini merupakan “tugas” yang cukup berat bagi para remaja untuk lebih menuntaskan tugas-tugas perkembangannya, sehubungan dengan semakin luas dan kompleksnya kondisi kehidupan yang harus dihadapi. Tidak lagi ia dijuluki sebagai anak-anak, melainkan ingin dihargai dan diakui sebagai orang yang sudah dewasa. Dengan demikian, para remaja menjalani tugas mempersiapkan diri untuk dapat hidup dewasa, dalam ari mampu menghadapi masalah-masalah, bertindak dan bertanggungjawab sendiri. Oleh karena itu, tugas perkembangan pada masa remaja ini dipusatkan pada upaya untuk menanggulangi sikap dan pola perilaku kekanak-kanakan.


2.2              Hukum-hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

Hukum pertumbuhan

Menurut Satoto,1993. Terdapat dua hukum pertumbuhan fisik yang berlaku umum dan menyeluruh yaitu:
1)      Hukum Chepa Lacaudal, pertumbuhan dimulai dari arah kepala menuju ke kaki. Dalam hukum ini bagian kepala tumbuh lebih dahulu daripada daerah-daerah lain. Kematangan pertumbuhan juga berlangsung lebih dahulu di bagian kepala, kemudian berlanjut ke bagian-bagian lain dari tubuh.(Siti Hartinah,2011:33). Menurut hukum chepa  lacaudal, pertumbuhan fisik seseorang di mulai dari arah kepala baru menuju kearah lain bagian tubuh.

2)      Hukum proximodistal, pertumbuhan berpusat dari daerah sumbu (proximo) ke arah tepi(distal). (Siti Hartinah,2011:33). Menurut hokum proximodistal pertumbuhan dimulai dari sumbu yang terdiri dari jantung,alat pernapasan dan alat pencernaan yang akan tumbuh terlebih dahulu dan lebih pesat apabila dibandingkan dengan didaerah tepi, miosalnya anggota tubuh lain (anggota gerak badan).

Hukum perkembangan
Hukum perkembangan adalah prinsip-prinsip yang mendasari perkembangan fisik maupun psikis individu. Macam macam hukum perkembangan tersebut terdiri dari:
1)      Hukum Tempo Perkembangan
Istilah tempo berarti waktu atau masa. Hokum tempo perkembangan bermakna berlangsungnya perkembangan individu yang satu tidak sama cepat atau lambatnya dengan   individu yang lain. (Siti hartinah, 2011: 62). Ada individu yang dalam perkembangannya serba cepat misalnya dalam hal pemahaman suatu pelajaran, tetapi ada pula individu yang membutuhkan waktu yang lama untuk menyamai individu yang lain. Tidak lain semuanya ini menyangkut tempo perkembangan dan ini telah menjadi  hukum yang pasti bahwa setiap individu mempunyai  kecepatan(tempo) perkembangan yang berbeda-beda menurut indivudunya sendiri

2)      Hukum Irama Perkembangan
Yakni variasi atau fluktuasi naik turunnya perkembangan individu berlangsung dengan irama perkembangan yang tidak selalu dengan irama perkembangan yang konstan, tetapi kadang dengan irama yang cepat,lambat bahkan kadang-kadang berhenti kemudian dengan cepat berpacu.( Siti hartinah, 2011: 62). Dalam Hukum ini menyatakan bahwa, bahwa berlangsungnya perkembangan itu tidak selalu tetap konsisten dan merata pada setiap waktu. Hukum irama perkembangan mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya perkembangan individu, akan tetapi tentang irama atau rythme perkembangan. Jadi perkembangan individu ini mengalami gelombang “Pasang Surut”, mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak tersebut mengalami juga kemunduran dalam suatu bidang tertentu.

3)      Hukum Rekapitulasi
Dikatakan bahwa perkembangan psikis individu akan pengulangan urutan tingkah laku dari perkembangan nenek moyang suatu bangsa.( Siti hartinah, 2011: 63). Hukum ini mejelaskan, Perkembangan psikis anak adalah ulangan secara singkat perkembangan umat manusia. Dari Seluruh perkembangan umat manusia terulang dalam waktu beberapa tahun secara singkat dalam perkembangan individu yang bersangkutan.

4)      Hukum Masa Peka
Menurut M. Montessori “Dalam perkembangan anak terdapat suatu saat yang sangat tepat bagi suatu fungsi untuk dapat berkembangan dengan baik sekali atau sangat sensitive dan sangat dengan mudah untuk merespon stimulus yang dating kepada dirinya. (Siti Hartinah, 2011: 63). Pada masa ini anak mempunyai kesiapan terbaik untuk melaksanakan tugas perkembangan dalam fungsi tertentu. Oleh karena itu harus dilayani dan diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk menjalankan fungsi tersebut.

5)      Hukum Truzalter( Masa Menentang)
Pelaksanaan individu tidak selalu berlangsung dengan tenang dan teratur tetapi pada masa tertentu terjadi guncangan yang membawa perubahan secara radikal.( Siti Hartinah, 2011: 65). Hukum ini menyatakan perkembangan individu itu tidak selalu mulus sesuai dengan keinginan dari individu tersebut. Tetapi selalu ada macam-macam rintangan yang dapat mengganggu jalannya perkembangan tersebut. Dalam proses tersebut selalu ada hambatan yang dapat membawa perubahan yang baik terhadap individu tersebut.

6)      Hukum Masa Eksploratif
Menurut langeveld,” perkembangan individu merupakan suatu proses yang berlangsung sebagai suatu penjelajahan dan penemuan pada individu yang bersangkutan. (Siti Hartinah, 2011: 65). Dalam hokum ini msngandung arti bahwa perkembangan individu diperlukan adanya suatu proses penjelajahan yang aman individu yang bersangkutan ikut serta dalam mencapai suatu tujuan perkembangan.

7)      Hukum Pertahanan Diri
Yakni suatu respon dalam bentuk sikap atau perilaku individu dimunculkan ketika dirinya merasa mendapatkan stimulus yang tidak sesuai atau tidak menyanangkan. ( Siti Hartinah, 2011: 66). Dorongan mempertahankan diri terwujud misalnya dorongan seseorang dalam mencapai suatu tujuan  dan menjaga keselamatan diri sendiri. Dari usaha untuk memepertahankan diri berlanjut menjadi usaha untuk mengembangkan diri. Hukum mengembangkan diri mengandung arti bahwa setiap individu memiliki dorongan ilmiah untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya tetapi keberhasilan hal tersebut memerlukan usaha yang aktif dan kreatif.

2.3              Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja, yaitu:
1)      Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir  yang duduk di masa kuliah.
2)      Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
3)      Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
4)      Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-     kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.Remaja ada diantara anak dan orang dewasa ,remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnya.

Ditinjau dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan anak-anak, mereka masih harus menemukan tempat di dalam masyarakat. Remaja ada dalam tempat marginal. Berhubung ada macam-macam persyaratan untuk dapat dikatakan dewasa maka lebih mudah untuk dimasukan katergori anak dari pada dewasa. Baru pada abad ke 18 maka masa remaja di pandang sebagai periode tertentu lepas dari periode kanak-kanak. Meskipun begitu kedudukan dan status remaja berbeda dari pada anak, masa remaja menunjukan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak. Dipandang dari segi sosial, remaja mempunyai posisi marginal, penelitian Roscoe dan Peterson  membuktikan hal ini.



2.4              Jenis-jenis Kebutuhan dan Pemenuhannya
Kebutuhan remaja dapat dibedakan atas 2 jenis yaitu kebutuhan fisik dan psikologis. Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses pertumbuhan, dan perkembangan dari proses sebelumnya. Seperti halnya pertumbuhan fisik yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awal masa remaja sebagai indikator menuju tingkat kematangan fungsi seksual seseorang. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam pertumbuhan fisik dan kebutuhan sosial psikologis yang lebih menonjol. Bahwa antara kebutuhan keduanya (fisik dan psikologis) saling terkait. Oleh karena itu, pembagian yang memisahkan kebutuhan atas dasar kebutuhan fisik dan psikologis pada dasarnya sulit dilakukan secara tegas. Sebagai contoh, “makan” adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan fisik, akan tetapi pada jenjang masa remaja “makan dilakukan bersama dengan orang tertentu/orang lain”, “makan dengan mengikuti aturan atau norma” yang berlaku didalam budaya kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan yang tidak hanya dikelompokkan sebagai kebutuhan fisik semata. Kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam kebutuhan sosial emosional. (Fadullah, 2011)
Secara lengkap kebutuhan dasar seorang individu dapat digambarkan sebagai berikut (Lindgren, 1980:42).
No.
Deskripsi
Karakteristik
1.

2.

3.
4.
Kebutuhan jasmaniah, termasuk keamanan dan pertahanan diri

Kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang
Kebutuhan untuk memiliki
Kebutuhan untuk memiliki
Kebutuhan yang terkait dengan pertahanan diri, khususnya pemeliharaan dan pertahanan diri, bersifat individual


Kebutuhan yang terkait langsung dengan pengembangan diri, yang relatif kompleks, abstrak, dan bersifat sosial
Lima jenis kebutuhan menurut Maslow itu adalah sebagai berikut:
1)      Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan yang mendapat prioritas utama yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan kondisi fisik, yang disebut “kebutuhan fisiologis”. Contoh dari kebutuhan ini adalah makan, minum, tempat tinggal, pemuasan seksual, udara segar, istirahat dan sebagainya.
2)      Kebutuhan rasa aman dan tentram
Kebutuhan rasa aman dan tentram (safety and security) ini  tidak  hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat psikis misalnya terbebas dari gangguan dan ancaman   serta  permasalahan yang dapat mengganggu ketenangan hidup seseorang.
3)      Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki
Kebutuhan ini (love and belongingness) diaktualisasikan dalam bentuk perasaan diterima oleh orang lain, merasa bahwa dirinya penting, diikut sertakan dalam kehidupan kelompok.
4)      Kebutuhan harga diri
Kebutuhan ini lebih sering dikaitkan dengan prilaku ataupun sifat seseorang yang nantinya akan mencerminkan harga diri orang tersebut. Dalam beberapa kasus, kebutuhan ini akan sangat mempengaruhi penilaian orang lain terhadap orang tersebut.
Menurut Elida Prayitno (2006:31) kebutuhan psikologis remaja dibagai atas:
·         Kebutuhan mendapat status
Remaja membutuhkan perasaan bahwa dirinya berguna, penting, dibutuhkan orang lain atau memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Remaja butuh kebanggaan untuk dikenal dan diterima sebagai individu yang berarti dalam kelompok teman sebayanya. Penerimaan dan dibanggakan oleh kelompok sangat penting bagi remaja dalam mencari kepercayaan diri dan kemandirian sebagai persiapan awal untuk menempuh kehidupan pada periode dewasa. (Fadullah, 2011).
·         Kebutuhan kemandirian
Remaja ingin lepas dari pembatasan atau aturan orang tua dan mencoba mengarahkan atau mendisiplinkan diri sendiri. Remaja ingin bebas dari tingkah laku orang tuanya yang terlalu mencampuri kegiatannya. Remaja ingin mengatur kehidupannya sendiri. (Fadullah, 2011).
·         Kebutuhan berprestasi
Remaja ingin dirinya dihargai dan dibanggakan atas usaha dan prestasinya dalam belajar. (Fadullah, 2011).
·         Kebutuhan diakrabi
Remaja butuh ide atau pemikirannya, kebutuhan atau masalahnya didengarkan dan ditanggapi secara akrab (penuh perhatian) oleh orang tua, guru, dan teman sebayanya. (Fadullah, 2011).
·         Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup
Remaja butuh pegangan hidup mengenai kebenaran agar mereka memiliki kepribadian yang stabil dan terintegrasi. (Fadullah, 2011).
Perkembangan Remaja
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks.  Jadi, pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia. (Atya, 2012)
Belajar hidup bersosialisasi memerlukan sekurangnya tiga proses berikut:
·         Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima dalam kelompok tersebut. (Queen, 2012).
·         Perkembangan sikap sosial. Untuk dapat bergaul dalam masyarakat, seseorang juga harus menyukai orang atau terlibat dalam aktivitas sosial tertentu. Jika anak dapat melakukannya dengan baik, maka ia dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota kelompok. (Queen, 2012).
·         Memainkan peran sosial yang dapat diterima. Agar dapat diterima dalam kelompok selain dapat menyesuaikan perilaku dengan standar kelompok, seseorang juga dituntut  untuk memainkan peran sosial dalam bentuk pola-pola kebiasaan yang telah disetujui dan ditentukan oleh para anggota kelompok. (Queen, 2012)
Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. (Khanifah, 2011). Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup. (Khanifah, 2011).
Masalah dan Konsekuensinya
 Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya yang dapat diuraikan sebagai berikut (Khanifah, 2011):
1)      Upaya untuk dapat megubah sikap dan prilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan prilaku orang dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Kegagalan dalam mengatasi ketidakpuasan ini dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat lebih lanjut menjadikan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya tidak percaya diri, pendiam, atau kurang harga diri.
2)      Seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi. Ketidakserasian proporsi tubuh ini sering menimbulkan keganjalan, Karena ia (mereka) sulit untuk mendapatkan pakaian yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan atau prilaku ynag kelihatannya wagu dan tidak puas.
3)      Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat meinbulkan kebinggungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan prilaku yang menentang norma. Pandanganya terhadap sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.
4)      Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian, dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti over acting, lancing, dan semacamnya.
5)      Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara social ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian social merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi oleh remaja karena mereka juga harus menghadapi norma baru dalam kehidupan sebaya remaja dan kuatnya pengaruh kelompok sebaya.
6)      Berbagai norma dan nilai yang berlaku didalam hidup masyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja. Dalam hal ini remaja menghadapi perbedaan nilai dan norma kehidupan. Seringkali perbedaan norma yang berlaku dan norma ynag dianutnya menimbulkan prilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan nakal.
Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja
Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan ini harus dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya agar tetap tegar (survival). Tidak berbeda dengan pemenuhan kebutuhanserupa di masa perkembangan sebelumnya, kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama ekonomi keluarga. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan fisik ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial seorang individu. Menghadapi kebutuhan ini latihan kebersihan, hidup terlalu dan sehat sangat perlu ditanamkan oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan masyarakat kepada anak-anak dan para remaja.

BAB 3
PENUTUP
3.1              Kesimpulan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai dari hasil proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam perjalanan waktu tertentu. Sedangkan perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Pada jenjang kehidupan remaja, seseorang telah berada pada posisi yang cukup kompleks, dimana ia telah banyak menyeleseikan tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangannya.
Hukum pertumbuhan dan perkembangan  menerangkan bagaimana sebuah perubahan secara fisik dan mental berlangsung secara terus menerus dialami dari masa-masa. Hukum pertumbuhan dan perkembangan juga dapat dinyatakan sebagai suatu konsepsi yang biasanya bersifat deduktif dan menunjukkan adanya hubungan yang ajeg (continue) serta dapat diramalkan sebelumnya antara variabel-variabel yang empirik (Tejaputri, 2013). Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Perubahan itu antara lain, Peningkatan emosional, perubahan kematangan seksual, perubahan hubungan bagi dirinya dengan orang lain, serta perubahan nilai.
Perilaku manusia disebabkan oleh dorongan-dorongan atau motif. Motif inilah yang mendorong individu sehingga muncul berbagai kebutuhan misalnya kebutuhan untuk mempertahakan diri dan kebutuhan untuk mengembangkan diri. Kebutuhan untuk berafiliasi dengan sesama dan kebutuhan untuk berprestasi merupakan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia setelah mencapai jenjang remaja.
3.2              Saran
Adapun saran dalam makalah ini adalah, baik antara kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikologis pada remaja, selayaknya mendapat perhatian baik dari orang tua, sekolah maupun dalam kehidupan bermayarakatnya. Hal ini dimaksudkan agar remaja tersebut dapat dengan mudah untuk beradaptasi dan mencari jati dirinya sendiri. Lalu selain dari proses sosialisasi pada remaja, perlu adanya bimbingan kepada mereka agar tidak salah memahami bagaimana cara bersosialisasi agar mereka tidak melewati norma-norma yang telah ditentukan, disamping itu agar mereka tidak gagal dalam mengatasi masalah-masalah yang mereka alami, perlu adanya pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan orang terdekatnya, sehingga mereka dapat menerima dan mengatasi problema-problema dalam kehidupannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar